kabaRI.id (Surabaya) – Puluhan perusahaan di sepanjang Sungai Brantas dan Kali Surabaya hadir di Hotel Zest. Dengan kesadaran tinggi mereka ikut dalam acara diskusi tripartit antara masyarakat, industriawan dan pemerintah, Rabu (18/12) pukul 13.00 wib.
Puluhan perusahaan yang hadir antaralain, PT MSA, Mandalindo, Rama Emerald, Sumber Agung, Karmuji Inti Utama, dan PT Indo Oil Perkasa, PD RPH Kedurus, Cahaya Plastik, PT Suparma Tbk, CV BISA, PT Mount Dream Indonesia, Gawerejo, RPA Budi Mulyono, PT KPA, KDI, dan PT Mitra Saruta.
Sementara itu dari pihak SKPD Jawa Timur dihadiri oleh Disperindag Provinsi Jatim, Dinas PU Pengairan, Satpol PP Provinsi Jawa timur, BBWS, DLH Kota Surabaya dan Provinsi Jawa timur, dan juga peserta pelatihan Garda Lingkungan dari kota atau kabupaten di wilayah Jawa Timur yang selama ini sebagai tim patroli air gabungan Jatim.
Kepala Seksi Penanganan Pengaduan dan Penaatan Hukum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim, Ainul Huri menjadi pemantik diskusi.
“Kita bukan menyidak, tetapi diskusi seperti ini kita menyelesaikan masalah. Misal ada masalah wilayah Gresik, langsung sampaikan, karena di sini ada DLH Gresik. Kalau tidak sanggup, baru kita beckup dari provinsi,” ujar Ainul.
Adalah Ansor Haq, dari PT KPA (Karang Pilang Agung) yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan perkembangan di perusahaan tempatnya bekerja. Dikatakannya, bahwa pihaknya sudah mendapat pembinaan sejak Januari, Rabu (18/12) pukul 14.08 wib.
PT. Gaweredjo, yang diwakili oleh Agustinus mengatakan, aktivitas produksi pabrik pewarna benang sementara ini berhenti, karena proses UKL/UPL, pukul 14.17 wib.
Dafit dari Sumber Agung, menyampaikan permasalahan yakni limbahnya jelek, sering meluber, pukul 14.48 wib.
Dari PT Rama Emerald, Helmi Januar menjelaskan, kendalanya adalah masalah perijinan. “Perijinan harus diperbaharui.
PT KDI (Keramik Diamond Industries) disampaikan oleh Lidia, ada kebocoran pada pipa, namun sudah proses perbaikan.
Perwakilan RPH (Rumah Potong Hewan) Kedurus, Bandang yang hadir mengatakan, ada pergantian petugas. Sehingga ia butuh adaptasi serta masukan dari tim patroli. Sementara pihak Alu Aksara mengakui akan ada perpindahan IPAL.
Sementara salahsatu peserta baru dari Malang, Wawan yang mengikuti pelatihan garda lingkungan ini mengutarakan betapa sulitnya mengajukan proposal untuk pembangunan plengsengan di Kali Mewek, Anak Sungai Brantas.
Dari Probolinggo, Yusuf melaporkan masalah sampah, sedangkan dari Pasuruan mengenai limbah B3.
Semua pertanyaan akhirnya dijawab oleh SKPD yang berkompenten, tanpa saling menyalahkan satu dengan lainnya.
“Diskusi inilah tujuan kita. Berlangsung guyub, rukun, keterbukaan dan saling mengisi. Karena itulah acara ini diyakini satu-satunya di Indonesia yang hanya ada di Jawa Timur. Diharapkan diskusi rutin setiap tahun sekali ini dapat membawa dampak positif demi menjaga kelestarian lingkungan di Jawa Timur dan menjadi contoh bagi daerah lain,” ujar Didik Harimuko selaku Komandan Garda Lingkungan Jatim.
Sementara Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) Jatim Imam Rochani melalui kabaRI.id, mengajak semua komponen masyarakat untuk selalu berperan aktif terhadap lingkungan di sekitar kita, agar kelestarian lingkungan bisa terjaga.
“Mari kita jaga lingkungan dari kerusakan. Karena bukan mustahil kejahatan lingkungan pasti timbul, dan mari kita selesaikan, maka akan meringankan beban, dan kita tidak hanya menyelesaikan itu secara horizontal, tetapi memberi solusi. Harapan kami, ini menjadi ujung tombak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia pada umumnya,” ujarnya.
“Segera laporkan ke aparat penegak hukum jika melihat adanya perusakan terhadap lingkungan dan jangan takut untuk melapor, karena masyarakat sudah dilindungi oleh UU No 32 tahun 2009,” pungkas imam.
Sebelumnya, Arif Budianto dari Perum Jasa Tirta 1 menyampaikan responnya dengan kegiatan ini. Menurutnya, dengan kondisi seperti ini secara otomatis ada perubahan jumlah penduduk dan jumlah penduduk yang bertambah berimbas pada perubahan tata guna lahan dan sebagainya. Dengan adanya perubahan ini mengakibatkan kondisi perairan khususnya air permukaan ini mengalami perubahan baik dari sisi kuantitas maupun dari sisi kualitas,” jelasnya
“Kami dari PJT melakukan kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dan LSM Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) Jatim sejak tahun tahun 2007 itu sudah rutin melakukan kegiatan patroli air setiap bulan yang bertujuan untuk memonitor kondisi perairan di wilayah Sungai Brantas,” tandasnya. (oso/ono)
































