kabaRI.id (Krian) – Di Dusun Klagen Desa Tropodo Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo, memang sarat polusi udara. Penyebabnya adalah, karena banyak Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi Tahu dengan menggunakan bahan bakar plastik.
Ironisnya, dampak asap dari pembakaran plastik yang mencemari lingkungan dan mengganggu warga sekitarnya, terkesan tak dihiraukan oleh para pengusaha Tahu.
Adalah Munir, warga setempat kepada kabaRI.id mengatakan, di Dusun Klagen ini banyak pengusaha Tahu. “Mereka membuat Tahu lebih dari 10 tahun. Dulu bahan bakarnya dari limbah sandal. Meski ambil satu truk limbah dari sandal, tidak bayar alias gratis dan malah dapat uang. Karena perusahaan butuh jasa untuk membuang limbahnya atau penampungan limbah,” ucap lelaki paruh baya ini, siang tadi.
“Limbah dari Surya Kertas hanya diberi cuma cuma, sedangkan limbah dari Pakerin harus beli. Karena untuk membuat Tahu membutuhkan pembakaran yang cukup, itu dapat dilihat dari asap yang tebal, karena banyaknya bahan bakar. Tapi dampaknya itu, seperti yang saya alami, nafas terasa sesak, mungkin kena paru paru. Dan saya dari dulu hingga kini tidak pernah menerima kompensasi sama sekali,” tuturnya.
Terkait hal ini, di rumah Zainal Arifin RT/RW-4, salah satu pelaku IKM Tahu di Dusun Klagen, siang tadi didatangi banyak tamu. Mereka dari Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Prov Jatim dan Sidoarjo, Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Jatim, Komunikasi Dan Informatika Jatim, Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan Kan Sidoarjo, PT Suparma Tbk, Camat Krian, Kades Tropodo, Direktur KLH (Konsorsium Lingkungan Hidup), Garda Lingkungan Jatim serta beberapa awak media.
Kunjungan rombongan ini dalam rangka upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengatasi bahaya bahan bakar plastik sebagai pengolah IKM Tahu, dengan menggunakan kayu-kayu bekas dari PT Suparma Tbk.
Diah Susilowati selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jatim mengatakan, IKM Zainal Arifin ini salah satu yang dipilih sebagai percontohan. Setelah itu ada pembinaan tidak hanya mengganti pembakarannya dari sampah plastik menjadi kayu, tapi juga pembinaan pada house keeping, produksi bersihnya.
“Karena memang perusahaan ini tidak memahami bagaimana proses mengolah tahu yang benar yang tidak mencemari lingkungan, termasuk limbah cairnya kan juga harus ada bak bak penampung, pengolahan dan sebagainya nanti kita akan memperhatikan itu. Tetapi yang paling utama adalah action gerakan untuk memotivasi sistem bahan bakarnya kita ganti lebih bagus lagi,” terang Diah.
“Untuk bahan kayunya akan dijelaskan oleh Pak Yus dari PT Suparma. Beliau ini layak kita apresiasi. Karena dengan niatnya, keinginannya untuk membantu kemitraan dengan UKM yang ada ini terutama satu dulu, nanti dievaluasi. Saya kira ya nanti berapa bulan sekali nanti akan ada evaluasi,” tandasnya.
Menurut Diah, bupati dan gubernur sudah memikirkan apa alternatif atau solusi untuk menangani bahan bakar. “Ini kami memang inisiatif dari perusahaan kan memang ada, itu yang kami gali dan perusahaan tidak hanya industri kertas saja, industri apapun kelau memang mereka ada palet palet dan kayu kayu sisa yang tidak terpakai atau terbuang. Kan murah nilainya, kenapa tidak dimanfaatkan untuk membantu kemitraan dengan UkM yang ada di Jatim? Saya kira ini pola gerakan yang bagus sekali, harus kita dorong dan kita kembangkan,” suportnya.
Ditanya wartawan ada berapa perusahaan yang siap untuk memberikan kayu, Diah mengatakan minimal yang kertas (pabrik kertas) di wilayah Mojokerto, Sidoarjo. “Kemarin jumlahnya ada 11 pabrik. Minimal itu akan kita dorong, mereka harus ikut bertanggungjawab memikirkan mitra mitra yang kecil yang selama puluhan tahun memanfaatkan limbah sisa mereka. Nanti ke depan kalau ada industri kayu, industri apapun yang memang mereka ada, kan jumlah industri sangat banyak di Jatim ratusan ribu lebih, saya kira mampu untuk membantu sementara, sambil menunggu teknologi yang dikembangkan ke depan,” kata Diah.
General Manager PT. Suparma Tbk, Yustiyohadi menjelaskan. “Jadi untuk kayu ini kita memberikan gratis. Mereka hanya menggunakan saja tanpa dituntut biaya sama sekali. Ini kayu bekas yang ada di tempat kami, yang tidak terpakai diberikan kepada Pak Zainal Arifin. Kami sudah stok 3 bulan, dengan harapan Pak Zainal tidak lagi membakar plastik untuk tungku pembakarannya, mereka beralih menggunakan kayu yang kami berikan. Harapan saya, dari sini nanti bu kadis bisa memberikan gambaran, bagaimananya tergantung beliau. Kalau untuk limbah plastik bekas kita musnahkan ke Semen Gresik. Kita ada sertifikatnya. Kita tidak pernah membuang ke TPA, kalau untuk kayu, baru kali ini kita berikan contoh untuk CSR,” ketusnya, menjawab pertanyaan wartawan.
“Kita sementara baru melakukan Satu. Nanti kita bekerjasama dengan DLH Jatim, berkoordinasi bagaimana baiknya. Tapi yang jelas, untuk Pak Zainal ini kita sudah siapkan Tiga bulan ke depan,” tegasnya. (ono)
































