kabaRI.id (Surabaya) – Evaluasi patroli air Jatim pagi tadi dihadiri dari berbagai elemen serta instansi pemerintah. Beberapa perusahaan berdasarkan hasil patroli air Jatim dan setelah uji di laboratorium, dinyatakan limbah cairnya tidak sesuai baku mutu.
Ainul Huri selaku Kasi Penanganan Pengaduan dan Penaatan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Prov Jatim menyatakan ada 4 perusahaan yang limbahnya masih bermasalah.
“Setelah kita uji lab, salah satu perusahaan terpaksa ditutup dulu, karena limbahnya masih jauh dari baku mutu yaitu PT. Gawe Redjo dengan hasil PH 8,84 dan COD 185,5,” terangnya.
“Sumber Agung, PT. Rama Emerald Multi Sukses, BOD baku mutunya 100, namun uji lab 262,5. COD baku mutu 300 hasil uji lab 2030 lainnya memenuhi baku mutu,” lanjut Ainul.
“Sementara Sandang Jaya perusahaan pewarna hasilnya PH harusnya baku mutunya itu 6-9, namun hasil uji lab 9,78. Ini masih jauh dari baku mutu,” tegasnya.
Direktur LSM KLH Imam Rochani juga menambahkan, “Kalau dari 4 Industri 3 diantaranya adalah pewarnaan kain dan yang parah lagi mereka itu buang limbah di atas jam 5 sore, seperti yang saya temui,” ungkap Imam Rochani.
Patroli yang dihadiri pejabat baru dari Polda Jatim juga memberi sedikit arahan untuk tim patroli, agar ke depan semakin kuat untuk menjaga lingkungan.
“Untuk kegiatan ke depan perlu kita gandeng tangan semua pihak, antara lain dari penyidik mengenai aspek hukum. Dan yang penting setiap ada perkara di lapangan harus kondisi yang riil, biar tidak dikatakan kacamata kuda,” ungkap Samsul Huda.
“Untuk menghindari juga gesekan pada masyarakat dan juga harus punya data yang kuat sebelum kita tindak. Kalau ada yang melanggar, hukum,” seru Samsul.
Komandan Garda Lingkungan Hidup Jatim, Didik Harimuko mengungkap terkait temuan patroli bulan kemarin.
“Di PT. Rama Emerald Multi Sukses harus tetap dikawal dan ditindak lanjuti sampai ada perubahan yang benar. IPAL nya masih kurang maksimal dan juga sisa obat yang diduga ditanam itu. Mestinya DLH Gresik tahu hal ini,” protes Didik
“Dan lagi sekarang banyak lahan masyarakat sekitar bantaran sungai dijadikan sebagai tempat timbunan sampah yang nota bene lahan itu sebenarnya milik BBWS. Seperti yang saya lihat di wilayah Wringinanom, banyak timbunan sampah dan limbah pabrik sengaja ditaruh di situ,” papar Didik.
Demi lancarnya kegiatan patroli air ini, kini PJT I memfasilitasi armada perahu baru sebanyak 2 unit perahu.
“Kita kemarin mendatangkan 2 perahu untuk kegiatan patroli ini. Yang satu kita taruh di PJT I Gunungsari, sedangkan satunya lagi kita taruh di Mojokerto,” kata Suprapto. (oso)
































