Oleh: Wiji Mulyo Maradianto *)
Ploso, bagi orang Jombang, bukan skekadar nama desa atau titik di peta sejarah. Ia berasal dari nama batang pohon ploso—simbol cinta yang tumbuh dari tanah, menegakkan batangnya untuk memberi naungan, dan tidak pernah lupa pada akar yang menegakkan kehidupan.
Maka ketika kini kita berbicara tentang penemuan tempat lahir Bung Karno di Ploso, Jombang, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar geografis.
Kita sedang diajak untuk kembali ke akar cinta: cinta pada tanah air, pada nilai, pada jati diri bangsa yang kini mulai dipukul oleh kepentingan politik.
Dalam filsafat Jawa, cinta bukan sekadar rasa, tetapi daya mengikat antara manusia dan alam semesta. Cinta yang dimaksud adalah tresna sing nyawiji—cinta yang menyatukan laku dengan nilai, kata dengan tindakan, cita dengan tanggung jawab.
Pohon ploso melambangkan cinta yang menegakkan kejujuran dan kesetiaan pada kehidupan, sebagaimana Bung Karno yang menegakkan cinta pada bangsa di atas segalanya. Maka jika benar dia lahir di Ploso, mungkin sejarah sedang mengirimkan pesan simbolik kepada kita: bahwa asal mula pemimpin besar bangsa ini tumbuh dari tanah cinta, bukan dari kursi kekuasaan.
Tetapi kini, cinta itu terkikis. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya cinta terhadap ilmu, bangsa, dan kemanusiaan justru terseret arus politik yang penuh intrik. Kasus SMA 1 Cimarga adalah cermin getirnya: seorang kepala sekolah yang berjuang menjaga integritas harus tersingkir oleh tekanan kepentingan politik. Ia tidak gagal mendidik, tapi gagal menyesuaikan diri dengan sistem yang tak lagi mengenal cinta pada nilai.
Ketika jabatan menjadi tujuan, bukan pengabdian, maka pendidikan berubah dari taman cinta menjadi medan kekuasaan.
Bung Karno pernah berkata, “Bangunlah jiwa, baru bangunlah badannya”. Kalimat itu lahir dari filosofi Ploso: bahwa batang yang kokoh hanya tumbuh dari akar yang kuat. Tapi kini, bangsa ini lebih sibuk membangun batang tanpa memperhatikan akar. Sekolah dibangun megah, pembaruan setiap tahun, anggaran pendidikan meningkat, namun akar moral dan cinta bangsa semakin rapuh. Anak didik tumbuh pintar tapi kehilangan rasa; tahu logika tapi lupa etika; hafal rumus tapi gagap ketika bicara kebenaran.
Pepatah Jawa anak polah bapa kepradah kini terbalik. Yang salah bukan lagi anak yang terganggu, melainkan para bapak yang mempermainkan nilai. Dari ruang guru hingga ruang rapat pejabat, pendidikan kini tak luput dari kontestasi kepentingan. Kepala sekolah menjadi korban politik lokal, guru yang berintegritas dibungkam, dan peserta didik belajar bahwa kebenaran bisa dikompromikan. Maka di mana cinta itu kini bersembunyi? Apakah masih ada batang ploso yang menjamin kejujuran di tengah hutan kepentingan?
Kita seolah lupa bahwa cinta adalah inti dari pendidikan. Seorang guru mengajar bukan karena gaji, tapi karena cinta.
Seorang murid belajar bukan karena disuruh, tapi karena ingin memberi yang terbaik bagi bangsa yang dicintainya. Cinta itu kini hilang ketika politik masuk ke ruang kelas. Lembaga pendidikan bukan lagi ruang pembentukan karakter, tetapi bagian dari rantai birokrasi yang tunduk pada kekuasaan. Ketika yang dihormati bukan nilai, melainkan jabatan, maka degradasi itu sudah sempurna.
Kembali ke Ploso bukan berarti mundur ke masa lalu. Ia melakukan ajakan spiritual untuk menanam kembali batang cinta di tanah bangsa yang gersang. Sebab pendidikan sejati adalah urusan cinta—cinta pada keilmuan, cinta pada kemanusiaan, cinta pada kebenaran. Cinta itulah yang melahirkan karakter seperti Bung Karno. Ia bukan sekedar belajar di sekolah, tapi belajar dari kehidupan. Ia mencintai bangsanya dengan pikiran dan tindakan, bukan dengan slogan. Ia tidak berpolitik untuk kekuasaan, tapi untuk menegakkan martabat manusia Indonesia.
Kini kita hidup di masa di mana politik mencemari pendidikan, dan pendidikan diam di hadapan politik. Kita takut kehilangan jabatan lebih dari kehilangan integritas. Kita membiarkan generasi muda belajar dari berita sensasional, bukan dari keteladanan. Dan ironisnya, kita tetap menyebut ini sebagai “pembangunan karakter bangsa.” Padahal yang dibangun hanyalah struktur tanpa jiwa.
Ploso sebagai simbol cinta mengajarkan kita bahwa cinta sejati itu menumbuhkan, bukan memanfaatkan. Jika dunia pendidikan masih dimasuki oleh kepentingan politik, maka yang tumbuh bukanlah cinta, melainkan ketakutan. Guru bersuara, kepala sekolah takut kehilangan jabatan, dan siswa belajar bahwa aman berarti diam. Padahal Bung Karno lahir dari cinta yang berani bersuara. Dari cinta yang berani melawan ketidakadilan, dari cinta yang berani kehilangan segalanya demi kebenaran.
Seandainya kita masih mengingat filosofi ploso, mungkin kita akan sadar bahwa pendidikan bukanlah pabrik gelar, melainkan taman tempat tumbuhnya nilai. Dan taman itu hanya akan hidup bila disirami cinta, bukan kepentingan. Kita perlu kembali mengajarkan anak-anak untuk mencintai bangsanya bukan karena disuruh, tapi karena sadar bahwa bangsa ini adalah rumah yang harus dijaga. Kita perlu kembali mendesain pada guru dan pemimpin sekolah bahwa jabatan hanyalah tanggung jawab, bukan hak istimewa.
Kembali ke Ploso berarti kembali pada sumber cinta yang mempersatukan bangsa. Ia bukan sekadar romantisme, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana bangsa ini kehilangan arah karena kehilangan cinta pada kebenaran. Sebab politik tanpa cinta melahirkan kekuasaan yang menindas, sementara pendidikan tanpa cinta melahirkan generasi yang apatis. Dan bila keduanya bersatu dalam ketidaktulusan, maka masa depan bangsa ini akan tumbuh layu sebelum berbunga.
Mungkin bangsa ini memang butuh jeda diam seperti Ploso. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang berpikir—eling ambek waspada. Sebab dari keheningan cinta itu dulu lahir Sukarno, yang cinta pada bangsa bukan diukur dari semboyan, tapi dari kesetiaan keteguhan nilai. Kita perlu menyalakan kembali cinta itu di sekolah-sekolah, di ruang guru, di hati setiap pejabat yang memutuskan nasib pendidikan.
Kembali ke Ploso adalah panggilan moral: untuk menegakkan batang cinta di tengah hutan politik. Agar pendidikan kembali punya jiwa, dan bangsa ini kembali punya arah. Karena tanpa cinta, pengetahuan hanyalah angka. Tanpa cinta, jabatan hanyalah panggung kosong. Tapi dengan cinta, bahkan batang pohon ploso pun bisa melahirkan pemimpin yang mencintai bangsanya hingga akhir hayatnya.
Ploso, Jombang, 2025.
*) Penulis adalah pemerhati sejarah dan mahasiswa S2 jurusan Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang



































