Warga Warugunung Meninggal Dinyatakan Covid 19, Benar Atau Hoaks?

0
1500
IMG 20200603 192204
IMG 20200603 192204

kabaRI.id (Surabaya) – Seorang warga di Kelurahan Warugunung, dinyatakan meninggal karena Covid-19 pada 30 Mei lalu. Dari Rumah Sakit Siti Khodijah, jenazah diantar dengan mobil ambulan menuju tempat pemakaman umum setempat.

Rusdianto Ketua RW dan Parno Wiyoto Ketua RT setempat didampingi beberapa warga, kepada kabaRI.id membenarkan, jenazah didampingi seorang kerabatnya diantar oleh mobil ambulan RS Khodijah, Taman-Sidoarjo. “Sopir ambulan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), hanya masker saja,” kata Rusdi, kemarin.

“Sementara Dua APD kami dapat dari bantuan kelurahan, selebihnya kami swadaya sendiri, dan proses pemakaman dilakukan sesuai aturan yang ada,” terangnya, Rabu (3/6/2020) pukul 15.39 wib.

“Ada 6 orang warga dan 1 dari pihak keluarga yang memakamkan jenazah. Setelah proses pemakaman selesai, barulah dibacakan doa oleh modin setempat. Dari pihak dinkes, maupun muspika tidak ada yang hadir,” ungkapnya.

“Yang menjadi pertanyaan warga, jika memang almarhum positif Covid 19, tentu ada surat keterangan dari rumah sakit yang bersangkutan. Tetapi ini tidak ada, hanya penyampaian secara lisan saja,” sesal warga.

Kepala Puskesmas Kedurus, drg. Triani menegaskan, tidak ada SOPnya petugas puskesmas berada di lokasi saat pemakaman pasien Covid. “Karena terus terang tugas kita kan merujuk, melayani, mengusulkan, memberikan makan untuk kotaknya. Jadi kita berbagi tugas dengan lintas sektor yang lain supaya kita juga diringankan. Semua itu tidak hanya tugasnya puskesmas saja,” ujarnya.

Ketidakjelasan mengenai surat keterangan hasil swab yang belum diterima pihak keluarga almarhum, menimbulkan kesan bahwa orang/pasien yang meninggal di saat pandemi seperti sekarang ini dianggap terkena Covid 19, meski sebenarnya bukan penyebab dari Covid.

Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Triani, jawabannya malah menimbulkan gagal paham. Menurutnya, semua orang yang meninggal di saat pendemi seperti sekarang ini dan dianggap terkena Covid, tidak akan meresahkan masyarakat. “Stigma ini harus dihilangkan. Karena terkena Covid bukan aib, kan musibah,” ketusnya, kemarin. Sedangkan soal APD, Triani menyarankan untuk bertanya kepada camat.

Joni Wahyuhadi selaku Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Covid 19 Jatim, dan juga selaku Direktur RSU Soetomo, ketika dikonfirmasi kabaRI.id, meminta waktu untuk konfirmasi ke RS Khodijah, kemudian mendapat jawaban sebagai berikut. “Asswrwb Pak Dir/Ketua Satgas Kuratif, baru menjawab karena menunggu laporan kronologis dari wadir medis. Kejadian yang sebenarnya, penderita sudah konfirmasi dan dalam perawatan RSSK meninggal.
Sudah kami laporkan ke Dinkes Sidoarjo dan Surabaya. Keluarga menolak melalui pralaya, minta dimakamkan di desa. Kami laporkan ke Dinkes Surbaya lagi dengan bukti terlampir. Oleh dinkes sudah dihubungkan ke puskesmas setempat yang selanjutnya jadi tanggung jawab puskesmas dengan aparat kecamatan/desa. Dan dilaporkan kalau penggalian makam baru 50 persen. Setelah ada laporan makam siap, ambulance dan tim berangkat dan sudah serah terima. Demikian laporan sementara dari kami.” Selasa (2/6) pukul 08.37 wib.

“Dari Dinkes Surabaya sudah diserahkan ke puskesmas setempat, tetapi sampai proses pemakaman tim puskesmas belum datang,” ulasnya.

Joni enggan menjawab ketika ditanya kabaRI.id, mengenai surat keterangan hasil swab atas nama almarhum.

Kapolsek Karangpilang, Kompol Samsul Hadi, melalui WA menyarankan untuk menanyakan masalah ini ke warga. Informasinya sore tadi, kapolsek didampingi bhabinkamtibmas menemui ketua rw dan warga setempat di balai rw.

Lurah Warugunung, Iswahyuhdie didampingi babinsa setempat mengaku, pihaknya memberikan Dua APD kepada warga. “Itupun bekas dipakai untuk penyemprotan disinfektan. Sebenarnya APD itu murah, hanya sekira Rp. 5000,-. Warga bisa membeli sendiri. Yang penting semua anggota tubuh terlindungi,” tandasnya, kemarin.

“Saya ini sebagai ujung tombak, juga ujung tombok. Seperti alat ini, semua saya yang beli dengan biaya pribadi dan sudah dibagikan ke setiap rw,” tuturnya, sembari menunjuk bahan kimia cair di bawahnya.

Yudhie merasa tak mampu kalau kebutuhan itu dibebankan kepadanya. “Lha terus anak dan istri saya nanti mau makan apa?” tanyanya.

Sementara pihak RS Khodijah sendiri melalui WA resminya enggan memberikan foto surat keterangan hasil swab kepada kabaRI.id, kecuali anggota keluarga almarhum yang tertera dalam rekam medik, dengan syarat membawa KK dan KTP, Rabu (3/6) pukul 18.40 wib. (wan,ono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here